Menghadiri Peluncuran Modul Blue Halo S dan Kuliah Umum Kolaborasi Ilmu Pengetahuan dan Aksi untuk M
07 Aug 2025
07:50:18 WIB
56x dibaca
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Pesisir Selatan Menghadiri Peluncuran Modul Blue Halo S dan Kuliah Umum Kolaborasi Ilmu Pengetahuan dan Aksi untuk Masa Depan Laut dan Pesisir yang lebih baik yang dilaksanakan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat yang menyampaikan terimakasih untuk Yayasan Konservasi Indonesia karena telah memilih Sumatera Barat sebagai tuan rumah peluncuran Modul Blue Halo S-501. Hal ini mengingat Sumatera Barat memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar dan didukung adanya 8 (delapan) kawasan konservasi perikanan yang memiliki peran penting untuk sektor kelautan dan perikanan berkelanjutan.
Pemaparan Modul Blue Halo S disampaikan oleh Bapak Dr. Suparno. Inisiatif Blue Halo S (BHS) pertama kali diluncurkan pada acara Ocean20 dalam KTT G20 di Bali, pada November 2022. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia (melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan), Conservation International, dan Konservasi Indonesia dengan dukungan Green Climate Fund (GCF). Dalam acara peluncuran tersebut, Kegiatan di lakukan (WPP) 572 yang berbatasan dengan enam provinsi di sepanjang pantai barat Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Selanjutnya penyampaian Kuliah Umum yang bertemakan "Kolaborasi Ilmu Pengetahuan dan Aksi untuk Masa Depan Laut dan Pesisir yang Lebih Baik" disampaikan oleh Meizani Irmadhiany (Senior Vice President & Executive Chair Konservasi Indonesia). Dimana disampaikan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia yang menjadi sumber protein dan sumber ekonomi bagi Negara Indonesia. Hanya saja saat ini Indonesia menghadapi tantangan Kondisi Laut dan Pesisir antara lain:
1. Over fishing dan praktik ilegal fishing
2. Kerusakan habitat/ekosistem laut dan pesisir
3. Polusi/sampah plastik
4. Perubahan iklim
5. Pendanaan pengelolaan SDA yang belum optimal
Perlunya upaya kolaborasi dalam menghadapi tantangan tersebut. Yayasan Konservasi Indonesia telah banyak melakukan upaya dalam menghadapi upaya tersebut dalam beberapa kurun waktu terakhir. Hal ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang besar yang diprediksi akan dihadapi tahun 2025
Penulis:
DINAS PERIKANAN DAN PANGAN
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.